Pedestrian untuk sepeda motor

Revitalisasi Setengah Hati

Upaya Pemprov DKI Jakarta menjadikan Kota Tua menjadi kawasan wisata sepertinya tak kunjung maksimal. Meski sejumlah bangunan sudah direvitalisasi, di beberapa sudut Kota Tua masih ditemukan bangunan yang kumuh dan tak terurus.

Seperti sejumlah bangunan di sekitar Kafe Batavia dan Museum Fatahillah. Di tempat ini, banyak yang belum disentuh. Hal itu diperparah dengan banyaknya sampah yang bertebaran. Suasana kian tak nyaman dengan halaman museum yang terlihat gersang dan minim penghijauan.

Belum maksimalnya upaya revitalisasi juga bisa dilihat dari banyaknya pedagang kaki lima yang mangkal di sudut-sudut Kota Tua. Suasana tempo dulu juga sulit dinikmati dengan lalu lalang kendaraan roda dua yang dibiarkan melintas di jalan khusus bagi pedestrian (pejalan kaki). Kesan pengelolaan yang masih belum serius juga bisa dilihat dari lampu sorot di pinggir trotoar museum yang tetap menyala di siang hari.

Praktis, upaya menyedot turis menikmati kawasan ini belum maksimal. Padahal saat ini Pemprov DKI Jakarta sedang gencar mempromosikan progam Enjoy Jakarta;. Sesuai dengan namanya seharusnya obyek wisata yang dipromosikan harus mendapatkan perhatian dan perawatan khusus. Bukan saja lingkungan, tapi objek wisata sendiri masih belum bisa menarik perhatian turis baik domestik maupun asing.

Kawasan Kota Tua baru bisa dinikmati saat malam hari. Dengan suasana temaran lampu sorot, kesan tempo dulu sangat terasa di kawasan ini. Keberadaan Kafe Batavia sedikit banyak ikut menarik perhatian turis datang ke tempat ini.

"Sejumlah bangunan memang dalam keadaan kiritis. Kalau tidak cepat di pugar bisa saja roboh dan hancur kalau tidak diperbaiki," tutur Asep Kambali dari Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia. Hanya saja, sambung Asep, pemugaran saja dianggap tidak cukup. Agar kawasan ini bisa menarik minat turis, harus dibarengi dengan upaya menghidupkan suasan kawasan bersejarah itu.

"Bisa saja dijadikan wilayah hunian tanpa mengubah bentuk asli dan juga obyek wisata. Ataupun dijadikan hotel bergaya kolonial," sarannya. Hal itu diharapkan bisa merangsang minat turis untuk berkunjung.

Di sisi lain, pemilik bangunan di kawasan ini juga mengaku kalau mereka mau bekerjasama untuk merevitalisasi tempat itu karena sebagian besar bangunan bersejarah yang sudah rusak tak bisa direnovasi. Dia juga menganjurkan harus adanya sarana pedestrian yang bebas dari kendaraan bermotor. "Termasuk juga kelengkapan fasilitas publik lainnya, seperti restoran, hotel, sarana hiburan, toko suvenir, dan tempat ibadah," jelasnya.

Untuk menghidupkan suasana, harus ada pertunjukkan, baik pertunjukkan seni tari, musik, seni lukis, dan lain sebagainya, baik seni tradisional maupun seni modern dan dilakukan setiap hari atau setiap ada kunjungan wisata.

Ia juga menganjurkan disediakan berbagai makanan khas Jakarta sehingga wisatawan mengenal lebih lengkap Jakarta tempo dulu. (Indopos - aya)

0 comments:

test