Sunda Kelapa - Monas

Membangun Koridor Sejarah Jakarta
M Suprihadi

Awalnya adalah sebuah kegelisahan sementara pihak menyaksikan bangunan-bangunan tua di Jakarta tak terawat. Beberapa malah sudah hancur atau dihancurkan. Padahal, pengalaman di banyak kota di dunia menunjukkan, kebangkitan ekonomi dan nasionalisme sebuah bangsa justru dimulai dengan membangun kembali kota tuanya.

Pengantar Redaksi:
Masih dalam suasana memperingati Hari Kemerdekaan RI, pada 24 Agustus lalu "Kompas" menyelenggarakan diskusi terbatas dengan tema "Membangun Koridor Sejarah Jakarta". Diskusi ini mengangkat konsep pengembangan kawasan Sunda Kelapa yang sudah lama terpendam dan tidak pernah terwujud. Tampil sebagai pembicara adalah Pelaksana Harian Kepala Badan Pengelola Sunda Kelapa Martono Yuwono, salah satu tokoh reformasi Hariadi Darmawan, dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid, dengan moderator Amir Karamoy. Hadir sebagai peserta diskusi antara lain Rusdi Saleh, MT Zein, Marco Kusumawidjaja, Kepala Dinas Permuseuman DKI Jakarta Aurora Tambunan, sejarawan Taufik Abdullah, mantan Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata Marzuki Usman, serta Budi Liem. Hasil diskusi dituangkan di halaman ini, 46, dan 47, serta dilengkapi "display" foto di halaman 48 tentang bangunan di kawasan Sunda Kelapa untuk memberikan gambaran apa saja yang ada di kawasan tersebut.


Ars longa vita brevis. Seni itu usianya panjang, sementara hidup manusia itu pendek. Demikian Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun ketika memberi pengantar diskusi pendek itu. Maknanya, manusia boleh datang dan pergi silih berganti, generasi ke generasi, tetapi karya-karya seni (sejarah) tetap abadi.

Akan tetapi, dalam kenyataannya, ketika manusia yang menghuni sebuah tempat dan sebuah kota dibangun, sering kali peninggalan-peninggalan sejarah itu dihancurkan. Setidaknya, banyak warga dan penguasa kota yang tidak lagi memerhatikan atau bahkan menghancurkan bangunan-bangunan tua peninggalan peradaban masa lalu.

Demikian juga dengan Jakarta. Pembangunan mal, plaza, pusat perdagangan (trade center), apartemen, gedung bertingkat memenuhi hampir seluruh ruang kota, tetapi bangunan artistik peninggalan masa lalu justru terabaikan, baik dari segi pelestarian maupun perawatan.

Memang di tahun-tahun terakhir periode kedua kepemimpinannya, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso bertekad merevitalisasi kota tua Jakarta. Program itu, menurut Kepala Dinas Permuseuman DKI Jakarta Aurora Tambunan, disebut sebagai program dedicated Gubernur Sutiyoso. Maksudnya, program unggulan itu bukan hanya "harus terwujud", tetapi juga harus diteruskan oleh gubernur-gubernur berikutnya.

Berbicara soal kota tua Jakarta, wilayahnya memang sangat luas. Terbentang dari Pelabuhan Sunda Kelapa di utara hingga kawasan Glodok dan sekitarnya. Namun, diskusi ini hanya dibatasi pada kawasan Sunda Kelapa.

Kawasan ini luasnya 90,6 hektar. Di sebelah utara, kawasan ini dibatasi kolam Pelabuhan Sunda Kelapa dan batas luar Kampung Batang. Di sebelah barat dibatasi Jalan Gedong Panjang, dan di timur Kali Beton atau anak Sungai Ciliwung. Sementara batas selatannya adalah rel kereta api atau di bawah Jalan Tol Ancol-Pluit.

Selain kawasan darat di ujung utara Jakarta itu, wilayah Sunda Kelapa juga memasukkan empat pulau di Kepulauan Seribu yang semuanya mempunyai benteng peninggalan Belanda. Keempat pulau itu adalah Pulau Cipir, Pulau Kelor, Pulau Kapal (Onrust), dan Pulau Bidadari.

Jujur harus diakui, kawasan Sunda Kelapa yang kaya dengan peninggalan bangunan tua itu sekarang kondisinya memprihatinkan. Jorok dan kumuh. Museum Bahari, misalnya, lebih sering tergenang air. Demikian juga dengan gudang rempah VOC. Pasar Ikan yang sebenarnya sangat eksotik kini tidak tertata.
Para pedagang yang bermukim dan menetap di sana sama sekali tidak menyisakan tempat untuk memberikan kenyamanan pengunjung.

Tak heran kalau kemudian banyak orang, bahkan warga Jakarta sendiri, tidak mengenal atau bahkan tak tertarik datang ke Sunda Kelapa. Padahal, dari Sunda Kelapa inilah sebenarnya sejarah Jakarta dimulai.

"Tetenger" atau tengara
Berangkat dari keprihatinan itulah Martono Yuwono sebagai Kepala Badan Pengelola Kawasan Sunda Kelapa lalu menyusun sebuah konsep pengembangan kawasan. Tidak hanya merevitalisasi atau merestorasi sejumlah bangunan yang sudah ada, tetapi sekaligus mencoba merekonstruksi dan merangkum sejarah kejayaan nusantara.

Penggunaan kata "Nusantara" ini dianggap penting karena sejarah panjang bangsa ini tak lepas dari Sumpah Palapa Gadjah Mada yang bertekad menyatukan Nusantara. Ini penting, kata Martono, karena kata "Indonesia" sendiri baru digunakan secara resmi tahun 1917, dan kemudian diperkuat gaungnya pada tahun 1928. Padahal, sejarah penjajahan Belanda di Indonesia sudah dimulai sejak abad ke-17.

Tak heran kalau dalam konsep pengembangan kawasan Sunda Kelapa itu, Martono kemudian mengusulkan sebuah tengara atau tetenger sebuah monumen Sumpah Palapa sebagai bangunan baru.

Tengara itu penting untuk mengingatkan bahwa semangat nasionalisme bangsa ini sebenarnya pernah dibangkitkan oleh patriotisme Gadjah Mada. Sumpah Palapa itu sendiri, kata Martono, dengan mengutip berbagai sejarah bangsa di dunia, merupakan sebuah wake up call atau panggilan sejarah untuk sebuah kebangkitan bangsa menuju kejayaannya.

Sejarah bangsa ini memang kemudian terpuruk selama tiga setengah abad penjajahan Belanda, yang dilanjutkan dengan tiga setengah tahun penjajahan Jepang. Ketika akhirnya merdeka, Presiden Soekarno kemudian membangun Monumen Nasional yang dianggap sebagai wake up call yang kedua bangsa ini.

Sayangnya, masa kejayaan Indonesia selepas kemerdekaan juga tak berlangsung lama. Krisis ekonomi yang sangat luar biasa pada tahun 1997-1998 membuat bangsa ini seperti kehilangan keluhurannya. Dan dalam suasana seperti inilah sejumlah tokoh nasionalis bertemu untuk membicarakan apa yang bisa diperbuat bagi bangsa ini.

Salah satunya, menengok sejarah masa lalu untuk membangkitkan kejayaan masa depan. Dan konsep pengembangan kawasan Sunda Kelapa yang "penuh semangat juang" itu kemudian seolah jadi sebuah jalan. Setidaknya, di banyak kota di dunia, revitalisasi kota tua terbukti ampuh membantu mengangkat kehormatan bangsanya.

Menghubungkan dua tengara, Monumen Sumpah Palapa di utara dan Monas di selatan itu menjadi penting untuk menapak tilas perjalanan sejarah bangsa. Jalur penghubung kedua monumen itu panjangnya 12 kilometer, dan akan diberi nama Koridor Sejarah Jakarta atau Freedom Thrill.

Tentu saja di koridor itu juga harus diberi tengara-tengara yang menggambarkan sejarah bangsa dari era Hindu, Islam, Kolonial, hingga Kemerdekaan. Zaman Hindu diwakili dengan Tugu Padrao di Jalan Nelayan Timur yang kini tinggal situsnya.

Zaman Islam diwakili Monumen Pantura yang sekarang sudah ada. Lokasi monumen yang dibangun saat Soerjadi Soedirdja menjabat Gubernur DKI itu dulunya adalah bangunan Loji Widjajakrama, seorang penguasa dari Banten yang menangkap Kapten Van Denbrug yang saat itu merupakan penguasa Fort Iyacatra atau Benteng Jakarta.

Zaman Kolonial diwakili dengan rekonstruksi Kastel Batavia. Benteng pertahanan Belanda itu dulu dihancurkan oleh tentara Sultan Agung dari Mataram, dan juga oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan Maulana Yusuf dari Banten.

Selain membangun tengara dan merekonstruksi sejumlah bangunan tua, juga akan dibangun sejumlah bangunan pendukung untuk membuat kawasan itu makin menarik, seperti penataan kawasan Pasar Ikan.

Tak mudah diwujudkan
Konsep besar membangun tengara dan sejumlah bangunan baru untuk melengkapi kawasan Sunda Kelapa itu segera mengundang banyak kritik. Apalagi, untuk mewujudkan konsep itu juga harus dilakukan pembebasan lahan dan "penggusuran" penduduk. Sesuatu yang oleh banyak kalangan pencinta kota tua dianggap sebagai bertentangan dengan nilai-nilai revitalisasi kota tua.

Secara konsep, sebagian besar peserta diskusi sepakat bahwa usulan Martono itu sangat baik. Akan tetapi, untuk mewujudkannya masih banyak hal yang perlu dikoreksi. Setidaknya, koordinasi dengan sejumlah instansi terkait perlu dilakukan.

Sejarawan Taufik Abdullah bahkan mengingatkan agar kita tidak terjebak pada mitos sejarah. Mengklaim Jakarta sebagai kota yang begitu penting dalam sejarah panjang bangsa ini juga bisa menimbulkan tanya, walaupun itu sah-sah saja. Sejarah memang sering dimulai dari sebuah peristiwa kecil yang bahkan sangat lokal. Karena itu, membangun tetenger di Sunda Kelapa yang terhubung ke Monas juga tidak ada salahnya.

Pertanyaannya kemudian: bisakah konsep yang terkesan "mengawang-awang" itu bisa diwujudkan? Biarlah waktu yang menentukan....

1 comments:

Julia Fikri said...

Saya setuju dgn membangun kembali sunda kelapa,dgn begitu kita bisa merasakan bagaimana rasa nya pada masa itu

test